Rumah Adat Sasak


Suku Sasak adalah penduduk asli dan suku mayoritas di Lombok, NTB. Sebagai penduduk asli, suku Sasak telah mempunyai sistem budaya sebagaimana terekam dalam kitab Nagara Kartha Gama karangan Empu Nala dari Majapahit. Dalam kitab tersebut, suku Sasak disebut “Lomboq Mirah Sak-Sak Adhi.” Jika saat kitab tersebut dikarang suku Sasak telah mempunyai sistem budaya yang mapan, maka kemampuannya untuk tetap eksis sampai saat ini merupakan salah satu bukti bahwa suku ini mampu menjaga dan melestarikan tradisinya.
Salah satu bentuk dari bukti kebudayaan Sasak adalah bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah bukan sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya. Rumah adat Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti gunungan, menukik ke bawah dengan jarak sekitar 1,5-2 meter dari permukaan tanah. Atap dan bubungannya (bungus) terbuat dari alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu, hanya mempunyai satu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya. Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk) yang meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.
Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Selain itu ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem geser. Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah dengan kotoran kerbau atau kuda, getah, dan abu jerami. Undak-undak (tangga), digunakan sebagai penghubung antara bale luar dan bale dalem.
Hal lain yang cukup menarik diperhatikan dari rumah adat Sasak adalah pola pembangunannya. Dalam membangun rumah, orang Sasak menyesuaikan dengan kebutuhan keluarga maupun kelompoknya. Artinya, pembangunan tidak semata-mata untuk mememenuhi kebutuhan keluarga tetapi juga kebutuhan kelompok. Karena konsep itulah, maka komplek perumahan adat Sasak tampak teratur seperti menggambarkan kehidupan harmoni penduduk setempat.
Bentuk rumah tradisional Lombok berkembang saat pemerintahan Kerajaan Karang Asem (abad 17), di mana arsitektur Lombok dikawinkan dengan arsitektur Bali. Selain tempat berlindung, rumah juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan kehidupan sederhana para penduduk di masa lampau yang mengandalkan sumber daya alam sebagai tambang nafkah harian, sekaligus sebagai bahan pembangunan rumah. Lantai rumah itu adalah campuran dari tanah, getah pohon kayu banten dan bajur (istilah lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang dibakar, kemudian diolesi dengan kotoran kerbau atau kuda di bagian permukaan lantai. Materi membuat lantai rumah itu berfungsi sebagai zat perekat, juga guna menghindari lantai tidak lembab. Bahan lantai itu digunakan, oleh warga di Dusun Sade, mengingat kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan tanah liat yang merupakan jenis tanah di dusun itu.
Konstruksi rumah tradisional Sasak agaknya terkait pula dengan perspektif Islam. Anak tangga sebanyak tiga buah tadi adalah simbol daur hidup manusia: lahir, berkembang, dan mati. Juga sebagai keluarga batih (ayah, ibu, dan anak), atau berugak bertiang empat simbol syariat Islam: Al Quran, Hadis, Ijma’, Qiyas). Anak yang yunior dan senior dalam usia ditentukan lokasi rumahnya. Rumah orangtua berada di tingkat paling tinggi, disusul anak sulung dan anak bungsu berada di tingkat paling bawah. Ini sebuah ajaran budi pekerti bahwa kakak dalam bersikap dan berperilaku hendaknya menjadi panutan sang adik.
Rumah yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih dulu menerima/menikmati kehangatan matahari pagi ketimbang yang muda yang secara fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah, manusia berharap mendapat rida Allah di antaranya melalui shalat, dan hal itu sudah diingatkan bahwa pintu rumahnya menghadap timur atau berlawanan dengan arah matahari terbenam (barat/kiblat). Tamu pun harus merunduk bila memasuki pintu rumah yang relatif pendek. Mungkin posisi membungkuk itu secara tidak langsung mengisyaratkan sebuah etika atau wujud penghormatan kepada tuan rumah dari sang tamu.
Kemudian lumbung, kecuali mengajarkan warganya untuk hidup hemat dan tidak boros sebab stok logistik yang disimpan di dalamnya, hanya bisa diambil pada waktu tertentu, misalnya sekali sebulan. Bahan logistik (padi dan palawija) itu tidak boleh dikuras habis, melainkan disisakan untuk keperluan mendadak, seperti mengantisipasi gagal panen akibat cuaca dan serangan binatang yang merusak tanaman atau bahan untuk mengadakan syukuran jika ada salah satu anggota keluarga meninggal.
Berugak yang ada di depan rumah, di samping merupakan penghormatan terhadap rezeki yang diberikan Tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima tamu, juga menjadi alat kontrol bagi warga sekitar. Misalnya, kalau sampai pukul sembilan pagi masih ada yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah untuk bekerja di sawah, ladang, dan kebun, mungkin dia sakit.
Sejak proses perencanaan rumah didirikan, peran perempuan atau istri diutamakan. Umpamanya, jarak usuk bambu rangka atap selebar kepala istri, tinggi penyimpanan alat dapur (sempare) harus bisa dicapai lengan istri, bahkan lebar pintu rumah seukuran tubuh istri. Membangun dan merehabilitasi rumah dilakukan secara gotong-royong meski makan-minum, berikut bahan bangunan, disediakan tuan rumah.

Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi sakral (suci) dan profan duniawi) secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan manifestasi dari keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek moyang (papuk baluk) bale (penunggu rumah), dan sebaginya.
Perubahan pengetahuan masyarakat, bertambahnya jumlah penghuni dan berubahnya faktor-faktor eksternal lainya (seperti faktor keamanan, geografis, dan topografis) menyebabkan perubahan terhadap fungsi dan bentuk fisik rumah adat. Hanya saja, konsep pembangunannya seperti arsitektur, tata ruang, dan polanya tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya yang dilandasi oleh nilai-nilai filosofis yang ditransmisikan secara turun temurun.

Pemilihan Waktu dan Lokasi
Untuk memulai membangun rumah, dicari waktu yang tepat, berpedoman pada papan warige yang berasal dari Primbon Tapel Adam dan Tajul Muluq. Tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk menentukan hari baik, biasanya orang yang hendak membangun rumah bertanya kepada pemimpin adat. Orang Sasak di Lombok meyakini bahwa waktu yang baik untuk memulai membangun rumah adalah pada bulan ketiga dan bulan kedua belas penanggalan Sasak, yaitu bulan Rabiul Awal dan Zulhijjah pada kalender Islam. Ada juga yang menentukan hari baik berdasarkan nama orang yang akan membangun rumah. Sedangkan bulan yang paling dihindari (pantangan) untuk membangun rumah adalah pada bulan Muharram dan Ramadlan. Pada kedua bulan ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat, rumah yang dibangun cenderung mengundang malapetaka, seperti penyakit, kebakaran, sulit rizqi, dan sebagainya.
Selain persoalan waktu baik untuk memulai pembangunan, orang Sasak juga selektif dalam menentukan lokasi tempat pendirian rumah. Mereka meyakini bahwa lokasi yang tidak tepat dapat berakibat kurang baik kepada yang menempatinya. Misalnya, mereka tidak akan membangun tumah di atas bekas perapian, bekas tempat pembuangan sampah, bekas sumur, dan pada posisi jalan tusuk sate atau susur gubug. Selain itu, orang Sasak tidak akan membangun rumah berlawanan arah dan ukurannya berbeda dengan rumah yang lebih dahulu ada. Menurut mereka, melanggar konsep tersebut merupakan perbuatan melawan tabu (maliq-lenget).
Sementara material yang dibutuhkan untuk membangun rumah antara lain: kayu-kayu penyangga, bambu, anyaman dari bambu untuk dinding, jerami dan alang-alang digunakan untuk membuat atap, kotaran kerbau atau kuda sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai, getah pohon kayu banten dan bajur, abu jerami, digunakan sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.(*)

Sekilas tentang Lombok


Lombok adalah sebuah pulau nan elok yang digambarkan sebagai "seorang putri cantik yang masih tertidur" karena keindahan dan ketenangannya. Lombok terletak di antara 2 obyek wisata pesohor dunia yaitu Pulau Bali dan Pulau Komodo. Lombok selain indah, aman dan nyaman untuk berlibur juga menyimpan berbagai keunikan budaya dan tradisi yang merupakan bauran dari berbagai budaya lainnya seperti Bali, Jawa, Bugis, Arab dll. Obyek-obyek wisatanya sangat indah dan masih alami. Mulai dari ikan hias dan terumbu karang di dasar laut Gili Trawangan sampai flora dan fauna serta pesona alam nan menakjubkan di puncak Rinjani. Oleh karena itu, Lombok semakin mendapat tempat di hati para wisatawan baik nusantara maupun mancanegara.

Akses

Lombok dapat diakses langsung melaui Jakarta, Surabaya, Kuala Lumpur dan Singapore dengan pesawat dan Bali dengan pesawat dan ferry. Jadwal penerbangan tersedia setiap hari dengan beberapa kali penerbangan reguler terutama dari Bali. Sementara ferry reguler tersedia setiap jam dan ferry cepat 1 kali sehari dari dan ke Lombok. Selain karena keindahannya, semakin mudahnya akses ini juga membuat Lombok semakin banyak dikunjungi oleh para wisatwan.

Geografi

Secara geografis, Lombok terletak pada koordinat 116.351° BT dan 8.565° LS. Lombok merupakan bagian dari gugusan pulau-pulau yang ada di Nusa Tenggara atau yang dulu dikenal dengan nama Sunda Kecil atau Kleine Sunda. Luas pulau Lombok adalah sekitar 5.435 km² Tempat tertinggi di Pulau Lombok adalah puncak Gunung Berapi Rinjani [tertinggi kedua di Indonesia] yang menjulang pada ketinggian 3.726 m di atas permukaan laut.

Demografi  

Jumlah populasi penduduk Pulau Lombok adalah sekitar 3.000.000 jiwa menurut data tahun 2009. Penduduk asli Pulau Lombok adalah suku Sasak yang dipercaya merupakan keturunan dari suku Jawa. Suku Sasak tersebar di seluruh bagian Pulau Lombok dan mendominasi penduduk secara keseluruhan sampai 85%. Selain oleh suku asli Sasak, Pulau Lombok juga didiami oleh suku Bali, Jawa, Bugis, Banjar, Melayu, Cina dan Arab.

Topografi

Secara topografis, Lombok didominasi oleh lereng Gunung Berapi Rinjani. Hal ini membuat sebagian besar daerah di Lombok menjadi lahan pertanian yang subur. Lereng sebelah utara dan timur, misalnya, ditanami bawang putih, bawang merah tembakau dan tanaman holtikultura lainnya dengan kualitas tinggi. Sementara padi juga merupakan tanaman utama di sebagian besar Pulau Lombok. Walaupun daerah Lombok selatan cenderung lebih kering dibandingkan dengan daerah lainnya namun tetap produktif. Komoditi lain yang dihasilkan Lombok adalah jagung, cabe, kapas, kacang kacangan dll.

Agama

Agama leluhur atau agama tertua Suku Sasak Lombok disebut Boda, Kemudian setelah kerajaan-kerajaan dari Jawa ekspansi ke Lombok, Suku Sasak memeluk agama Syiwa-Buddha. Selanjutnya, setelah ekspedisi Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada masuk ke Lombok, Suku Sasak memeluk gama Hindu-Buddha. Agama Islam masuk ke Lombok sekitar abad XV M. Islam yang awalnya datangnya dari Jawa ini berkembang dengan pesat di Lombok dan menjadi agama yang dipeluk oleh hampir seluruh suku Sasak sampai saat ini. Oleh karena itu Islam adalah agama mayoritas di Pulau Lombok [±85%]. Agama kedua terbesar yang dianut di Lombok adalah Hindu, yang dipeluk oleh para penduduk keturunan Bali. Selain itu, penganut Kristen, Buddha dan agama lainnya juga dapat dijumpai di Lombok. Pemeluknya adalah pendatang dari berbagai suku yang masuk ke Lombok puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Di Bayan, Sembalun, Senaru, Pesugulan Lombok Utara, Pujut, Puyung, Sengkol, Rambitan, Sade Lombok Selatan, Tetebatu dan Loyok Lombok Timur dan Bumbung dan Narmada Lombok Barat dan beberapa tempat tepencil lainnya terdapat penganut aliran Islam Sasak atau lebih dikenal dengan Islam Wetu Telu, sebuah sekte Islam lokal yang terkontaminasi ajaran animis, Hindu dan tradisi leluhur.

Iklim

Seperti lazimnya daerah lain di Indonesisa, Lombok juga meiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan umumnya mulai dari Oktober sampai dengan Maret dan musim kemarau berlangsung dari April sampai September. Suhu rata-rata sepanjang tahun di Pulau Lombok berkisar antara 21º sampai 33 º Celsius.

Flora Dan Fauna

Walaupun Lombok secara geografis sangat dekat dengan Bali, hewan dan tumbuhan yang ada di Lombok sedikit berbeda dari yang ada di Bali. Lombok merupakan titik perbatasan antara hewan dan tumbuhan yang ada di Indonesaia bagian barat dan bagian timur. Karena itulah, Alfred Russel Wallace, seorang ahli Biologi abad IX dari Inggris menyebut Lombok sebagai The Wallace Line. Di bagian utara, Pulau Lombok didominasi oleh lembah dan bukit yang ditumbuhi oleh edeluis, pakis, pohon-pohon yang tinggi dan belukar. Sementara di bagian selatan, Lombok cenderung lebih tandus. Hewan yang dapat dijumpai di Lombok adalah kadal, biawak, kakatua, burung beo, koak kaok, gagak, elang, punglor, kera, babi, rusa dan lain-lain.

Pemerintahan

Lombok merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat [NTB] dengan ibu luas 19.708,79 km² yang sebelumnya merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara [NUSRA]. Pada tanggal 14 Agustus 1958, Provinsi NUSRA dimekarkan menjadi 3 provinsi yaitu Bali, NTB, dan NTT [Nusa Tenggara Timur] brdasarkan Undang-Undang Nomor 64 tahun 1958. Lombok terbagi menjadi 4 kabupaten: Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah dan Lombok Timur dan 1 kota: Kota Madya Mataram, sekaligus merupakan Ibu Kota Provinsi NTB.

Sejarah

    Asal Kata Lombok

Menurut isi Babad Lombok, kerajaan tertua yang pernah berkuasa di pulau ini bernama Kerajaan Laeq [Sasak: lampau], namun sumber lain yakni Babad Suwung, menyatakan bahwa kerajaan tertua yang ada di Lombok adalah Kerajaan Suwung yang dibangun dan dipimpin oleh Raja Betara Indera. Kerajaan Suwung kemudian mengalami kemunduran dan muncullah Kerajaan Lombok. Beberapa kerajaan lain yang pernah berdiri di pulau Lombok antara lain Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong Samarkaton, Selaparang dll.

Di antara kerajaan-kerajaan tersebut, yang paling maju pada zaman tersebut dan paling terkenal adalah Kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok sekarang ini; sebuah teluk yang sangat indah dan mempunyai sumber air tawar yang banyak. Keadaan ini membuat banyak pedagang dari Palembang, Banten, Gersik, dan Sulawesi menyiggahinya. Kemudian pada zaman kekuasaan Prabu Rangkesari, pusat kerajaan Lombok dipindahkan ke Desa Selaparang atas usul Patih Banda Yuda dan Patih Singa Yuda. Pemindahan ini dilakukan dengan alasan letak Desa Selaparang lebih strategis dan tidak mudah diserang oleh musuh dibandingkan posisi sebelumnya. Dengan demikian, dapat disimpulakn bahawa kata Lombok diambil dari nama kerajaan tersebut. Dalam bahasa Sasak, secara leksikal kata Lombok berarti lurus atau jujur. Dalam kehidupan sehari-hari atau secara kentekstual kata Lombok dapat berarti ketulusan dan kejujuran dalam segala tingkah laku dan menghindarkan diri dari perbuatan yang merugikan orang lain.

    Asal Kata Sasak

Menurut Rulof Goris, pada abad V hingga abad VI terjadi gelombang migrasi dari Pulau Jawa ke Bali dan Lombok menyusul runtuhnya Kerajaan Daha dan Kalingga. Alat transportasi laut yang dipakai menyeberang oleh para migran ke Lombok disebut sak-sak [rakit bambu]. Berdasarkan kata sak-sak itu lah,menurut Goris, mungkin kata Sasak berasal.

Namun demikian, A Teeuw, sastrawan Indonesia asal Belanda menduga kata sasak muncul dari kebiasaan masyarakat Lombok masa itu yang mengenakan ikat kepala berbahan tembasak [kain putih]. Bisa jadi sasak itu diambil dari suku kata terakhir tembasak yaitu sak yang mengalami proses pengulangan lalu jadi Sasak.
Sak-sak dalam bahasa Sasak secara leksikal berarti apa pun dan secara kontekstual dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang membaur dan berkembang bersama menjadi satu adalah identitas milik bersama. Oleh karena itu, budaya Sasak Lombok lahir dari berbagai budaya multi etnis yang mendiami pulau ini seperti Jawa, Banjar, Bugis, Melayu, dll.

Budaya

Kedekatan budaya Bali dan Lombok memang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah kedua pulau bertetangga ini. Diawali dengan masuknya pengaruh paham Syiwa-Buddha dari Pulau Jawa yang dibawa para migran dari kerajaan-kerajaan Jawa sekitar abad V dan VI M sampai infiltrasi kerajaan hindu Majapahit yang mengenalkan ajaran Hindu-Buddha ke penjuru timur wilayah Nusantara pada abad VII M, termasuk ke Bali dan Lombok.

Selain pengaruh budaya dari barat [Bali dan Jawa / majapahit] kebudayaan Lombok dipengaruhi juga oleh budaya dari timur yaitu budaya Kerajaan Goa. Namun demikian, pengaruh kebudayaan dari barat ini lah yang lebih menonjol dalam kehidupan sehari-hari sampai saat ini. Pakaian tradisional seperti ikat kepala, misalnya, dalam adat Sasak disebut sapuk [pria] sama dengan udeng dalam busana pria Bali dan serupa dengan blangkon dalam busana pria Jawa.

Kebiasaan nebon [pantang memotong rambut bagi suami yang istrinya dalam keadaan hamil] yang terdapat di Bali, dikenal pula dalam tradisi Sasak Lombok. Selama nebon, kegiatan rumah tangga ditangani suami. Kebiasaan ini dipertahankan dengan tujuan demi melahirkan generasi yang berkualitas jasmani dan rohaninya. 
 
sumber : www.detourlombok.com 

Seputar Taman Nasional Gunung Rinjani


Fungsi dan Peranan

Gunung Rinjani merupakan sebuah simbol kesakralan dan mistis di Pulau Lombok baik bagi suku asli Sasak yang mayoritas beragama Islam dan bagi Suku Bali yang beragama Hindu. Mitos dan legenda, pantangan dan larangan yang berkembang menjadi kepercayaan turun temurun membuat 
Gunung Rinjani menjadi semakin menarik untuk dieksplorasi, terutama bagi anda pecinta alam, baik alam nyata maupun alam gaib. Sejak dahulu kala, Gunung Rinjani menjadi sumber inspirasi, kekuatan dan kehidupan bagi masyarakat Lombok dan Bali (terutama yang menetap di Lombok) dalam arti yang seluas luasnya. 
 
Rinjani menjadi tempat ibadah, tempat melakukan pemujaan, tempat bertapa tempat menyucikan senjata pusaka bagi kedua kelompok masyarakat tersebut. Selain itu, Gunung Rinjani memberikan kehidupan bagi seluruh kawasan pertanian yang ada di Pulau Lombok karena dari kawasan hutan lindung yang ada di Gunung Rinjani, air mengalir terus sampai ke segala penjuru Pulau Lombok. Ini terjadi karena keberadaan Danau Segara Anak di kawasan Gunung Rinjani yang terletak pada ketinggian sekitar 2000 m di atas permukaan laut yang tidak saja menakjubkan secara keindahan namun juga berkedudukan penting karena berfungsi sebagai penampumng air yang tak kunjung kering sepanjang tahun yang selanjutnya teralirkan ke kawasan pertanian di seluruh Pulau Lombok.

Menyadari fungsi Gunung Rinjani yang begitu starategis bagi kehidupan masayarakat Lombok dan bangsa Indonesia pada umumnya, pemerintah akhirnya menetapkan Gunung Rinjani sebagai Taman Nasional dan ditetepakan secara resmi sebagai Kawasan Suaka Margasatwa oleh Menteri Kehutanan pada tahun 1997 berdasarkan SK No. 280/Kpts-V/1997 tanggal 23 Mei 1997. Luas dari kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani  mencapai 41.330 ha hutan yang secara geografis terletak di antara koordinat 116021'30" - 116034'01" Bujur Timur (BT) dan 8018'18" - 8032'19" Lintang Selatan (LS). Selanjutnya, secara wilayah administratif, Taman Nasional Gunung Rinjani termasuk ke dalam 3 kabupaten; Kabupaten Lombok Utara, Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Taman Nasional Gunung Rinjani rupanya tidak hanya penting bagi masyarakat yang tinggal di Pulau Lombok, tapi ternyata juga penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan bangsa. Ini ditunjang oleh keanekaragaman hayati baik flora fauna dan  vegetasi yang variatif yang merupakan tipe flora dan fauna dari hutan dataran tinggi. Keunikan keragaman hayati di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani terjadi karena Lombok dipercaya merupakan titik peralihan Zona flora dan fauna Asia dan Australia yang lebih dikenal dengan The Wallacea Line.

Selain sebagai "laboratorium" yang penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, Taman Nasional Gunung Rinjani juga menjadi gunung yang sangat menantang dan menarik bagi para pecinta alam atau penggemar petualangan mendaki gunung. Keindahan alam di kawasan Gunung Rinjani seolah dapat menyihir para pendaki sehingga rasa letih mereka terasa hilang begitu menapakkan kaki di Gunung Rinjani. Banyak di antara para pendaki baik nusantara maupun mancanegara yang kembali dan mendaki Gunung Rinjani berulang-ulang karena keindahan dan tantangan yang ada di sepanjang rute pendakian. Untuk melakuakan pendakian ke kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, para pendaki dapat melakukannya melalui dua jalur pendakian yang paling disarankan oleh Pengelola Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani yaitu rute Senaru dan rute Sembalun. Perkiraan waktu tempuh dari Bandara atau Senggigi ke Senaru adalah kurang lebih 3 - 4 jam dengn kendaraan umum atau 2 jam dengan kendaraan pribadi dan ke Sembalun kira-kira 4 - 5 jam dengan kendaraan umum atau 3 jam  dengan kendaran pribadi.

Selama dalam perjalanan pendakian di Gunung Rinjani, para pendaki ditawarkan pengalaman yang menakjubkan; tantangannya, keindahannya dan misteri di balik legendanya merupakan hal yang tak kan terlupakan. Sebagian dari tempat-tempat menarik dan hal unik yang akan dilalui dan dijumpai sepanjang perjalanan adalah Bunut Ngengkang, Montong Satas, Sanggah Basong (Muntiacus Muntjak), Gua, Aiq Kalak, Danau Segara Anak, Kalimantong (Strawberry Lokal), Edelweiss atau Sandar Nyawa (Anaphalis Javanica), Puncak Rinjani, dan Gunung Baru dll.

Gunung Rinjani yang sangat disakralkan dan dihormati oleh masyarakat Bali dan Sasak Lombok ternyata memiliki lusinan pantangan dan larangan bagi setiap orang yang berziarah (mendaki) Gunung Rinjani. Beberapa diantara pantangan dan larangan bagi penziarah (pendaki) yang sedang berada di Gunung Rinjani adalah laranagn untuk berkata-kata kotor, berkata-kata yang menunjukkan kekhawatiran atau keluh kesah. Konon apabila penziarah berkeluh kesah atau mengungkapkan kata-kata yang menunjukkan kekhawatiran maka hal yang dikhawatirkan tersebut akan serta merta menjadi kenyataan. Misalnya, bila mengatakan, "akan turun hujan", makan serta merta hujan akan turn. Selain itu, suami istri juga dilarang melakukan hubungin intim ketika berada di sana.

Gunung Rinjani adalah tempat suci bagi umat Hindu Bali karena dianggap sebagai tempat bersemayamnya para Dewa dan juga tempat suci bagi Suku Sasak karena dipercaya sebagai tempat tinggal para wali dan tokoh abadi Dewi Anjani.

Hailait

Selama dalam perjalanan, para pendaki dapt menjumpai beberapa flora dan fauna menarik atau menugunjungi tempat-tempat unik seperti di bawah ini:

    Gua

Selain pemandangan yang menakjubkan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, para pendaki juga dapat mengeksplorasi keunikan dan legenda yang terdapat di dalam tiga gua di sekitar Danau Segara Anak yaitu Gua Susu, Gua Payung, dan Gua Manik. Yang paling ternama dan unik dari ketiga gua itu adalah Gua Susu karena mitos yang berkembang di antara para pendaki tradisonal. Di dalam gua ini air menetes dari ujung-ujung bebatuan  yang menyerupai puting susu dan itulah sebabnya gua ini disebut Gua Susu. Uniknya, rasa air yang menetes dari setiap "puting" tersebut berbeda beda. Suhu di dalam Gua Susu terasa cukup panas dan mengeluarkan uap sperti pada sauna. Mulut Gua Susu yang sempit dipercaya akan menjadi lebih lebar jika yang memasukinya adalah orang baik sehingga dia akan lebih mudah untuk masuk. Sebaliknya, jika yang masuk adalah orang jahat maka mulut gua akan menjadi semakin sempit dan menyulitkan orang tersebut untuk masuk. Gua ini sering digunakan sebagai tempat bermeditasi atau bertapa oleh mereka yang sedang mencari kekuatan gaib.

    Aiq Kalak

Dalam Bahasa Sasak aiq berarti air dan kalak berarti panas. Air panas yang keluar dari perut Gunung Rinjani dan teralir ke kolam-kolam kecil yang bertingkat (terraced) di sekitar Danau Segara Anak. Karena itulah, suhu air pada satu kolam dan kolam lainnya berbeda-beda sehingga para pendaki dapat memilih suhu yang sesuai. Aiq Kalak menjadi solusi yang efektif untuk menghilangkan letih akibat rute pendaakian yg cukup menantang. Selain itu, kandungan sulfurnnya yang tinggi dapat pula mengobti penyakit kulit ringan dll.

Salah satu dari kolam air panas adalah Pengkereman Jambangan. Kolam air panas ini dipercaya oleh pendaki tradisional memiliki tuah. Oleh karena itu, banyak di anatara para pendaki merendam atau mencelupkan senjata pusaka mereka seperti keris, tombak, dan kelewang dengan maksud menguji kekuatannya. Bila benda pusaka tersebut tidak memiliki kekuatan supranatural yang cukup maka benda pusaka tersebut akan serta merta rusak atau bengkok. Selain itu, Pengkereman Jambangan juga dipakai untuk menguji minyak obat bertuah yang terbuat dari minyak kelapa. Bilamana minyak yang biasanya disebut Siu Satus Tunggal (seribu hajat) itu direndam dan berubah menjadi semakin jernih maka ini berarti bahwa minyak tersebut punya kekuatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan bahkan dapat memberikan efek kebal senjata tajam bila diminum.

    Danau Segara Anak

Dananu Segara Anak adalah danau di kawah Gunung Rinjani yang terletak di atas ketinggian sekitar 2000 m di atas permukaan laut. Dari rim,  Danau Segara Anak tampak sangat luas seperti miniatur lautan. Oleh karena itulah danau ini disebut Segara Anak karena dalam Bahasa Sasak segara artinya laut dan anak artinya mini atau miniatur. Konon Danau Segara Anak selain eksotis juga dipercaya sebagai tempat bermukimnya makhluk gaib yang ada di Gunung Rinjani dan sebagian besar dari makhluk gaib tersebut dipercaya beragama Islam. Dalam masyarakat Sasak Lombok berkembang mitos bahwa apabila seseorang melihat Danau Segara Anak dalam keadaan luas maka ini menandakan bahwa umur orang yang melihat tersebut masih panjang. Sebaliknya jika Danau Segara  Anak baginya tampak sempit, ini menandakan bahwa umur orang tersebut sudah pendek.

Menariknya, selain dipercaya sebagai tempat tinggal makhluk gaib, Segara Anak juga dipercaya oleh masyarakat Sasak Lombok yang beragama Islam sebagai tempat tinggalnya para wali yang telah, dalam pandangan manusia, meninggal. Jadi Masyarakat Sasak Lombok percaya bahwa para wali yang mereka anggap keramat tidaklah meninggal melainkan pindah dan menetap di Gunung Rinjani. Sejalan dengan itu, Masyarakat Sasak Lombok juga percaya bahwa di sekitar Danau Segara Anak atau kawasan Gunung Rinjani terdapat sebuah masjid besar yang dibangun oleh para gaib yang tinggal di sana. Selain sebagai tempat ibadah rutin, masjid tersebut juga konon dipercaya sebagai tempat diadakannya pertemuan rutin dan istimewa bagi para wali baik yang sudah tinggal di sana (meninggal) maupun para wali yang masih hidup namun memiliki kekeramatan dan mampu menembus alam gaib. Lagi-lagi, masyarkat Sasak Lombok percaya bahwa para wali inilah yang selalu berusaha dengan keras untuk menjaga Gunung Rinjani agar tidak meletus dan menyengsarakan penduduk Lombok.

Gunung Baru adalah sebutan untuk gunung yang muncul dari aktifitas gunung berapi Rinjani yang muncul di tengah Danau Segara Anak. Gunung Baru ini sesekali terlihat mengeluarkan asap gunung berapi. Menurut kepercayaan masyarakat Gunung Baru merupakan pusar Gunung Rinjani. Gunung Baru meletus terakhir pada tahun 1994  namun tidak terlalu dahsyat sehingga tidak berakibat buruk bagi masyarakat Lombok. Sebagian masyarakat Lombok justru mempercayai bahwa Gunung Baru meletus karena bangsa jin yang bermukim di sana ssedang membangun sesuatu. Hal ini tampak dari bebatuan yang tersusun rapi dan indah di sekitar kaki Gunung Baru.

    Puncak Rinjani

Puncak Gunung Rinjani memiliki ketinggian 3.726 m di atas permukaan laut. Bagi para pendaki, menaklukkan puncak Gunung Rinjani adalah kebanggaan yang luar biasa karena rute pendakian untuk menuju ke puncak sangat menantang. Terlebih lagi bagi para pendaki tradisional Sasak Lombok, mereka menganggap bahwa menaklukkan puncak Gunung Rinjani adalah suatu pencapain yang fantastis karena selain medan yang sulit juga karena mereka percaya bahwa di puncak Gunung Rinjani bersemayam tokoh abadi penguasa Gunung Rinjani yaitu Dewi Anjani. Dewi Anjani adalah sebenarnya seorang manusia, puteri dari seorang raja yang tidak diizinkan oleh ayahnya menikah dengan kekasih pilihnnya. Karena kecewa, pada suatu tempat mata air bernama Mandala sang puteri menghilang dan berpindah tempat dari alam nyata menuju ke alam gaib di Puncak Gunung Rinjani.

Bahkan, masyarakat Sasak Lombok percaya bahwasanya puncak Gunung Rinjani sesungguhnya tak terdaki karena ini merupakan istana Sang Dewi Anjani dan yang terlihat dan terdaki tersebut adalah puncak semunya karena puncak yang sejatinya dilindungi agar tak tersentuh makhluk lain. Pemandangan dari puncak Gunung Rinjani tentu saja sangat menakjubkan terutama ketika matahari terbit. Seluruh Pulau Lombok, sebagian Pula Sumbawa dan Pulau Bali dapat terlihat dari Puncak Gunung Rinjani.  Kemudian di bagian tenggara terdapat sebuah danau debu yang disebut Danau Segara Muncar. Pada saat-saat tertentu, sebagian orang dapat melihat istana Dewi Anjani yang ada di sekitarnya.

Flora dan Fauna


    Bunut Ngengkang

Dalam Bahasa Sasak bunut berarti beringin dan ngengkang berarti berdiri dengan kaki terbuka lebar. Bunut Ngengkang adalah sebuah pohon beringin besar dan tinggi yang sangat rindang dan batang pohonnya terlihat seperti sepasang kaki yang sedang terbuka lebar. Bunut Ngengkang biasanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan oleh para pendaki sambil memandangi pohon beringin raksasa tersebut. Tempat ini juga merupakan titik persimpangan antara jalan dari Senaru dan Semokan.

    Montong Satas

Di tempat ini terdapat sebuah batu besar yang juga sering dipakai oleh para pendaki untuk melepaskan lelah sambil meneguk bekal air minum yang dibawa. Batu yang terdapat di Montong Satas ini dijuluki Batu Penyesalan karena biasanya pada titik ini muncul kebimbangan dan penyesalan dalam hati para pendaki antara melanjutkan perjalanan atau kembali. Kebimbangan muncul karena jarak yang tersisa masih cukup jauh padahal badan telah letih sementara untuk kembali ke Senaru juga tak kalah jauhnya. Dalam keadaan normal dan kondisi fit, Montong Satas dapat ditempuh dalam waktu dua jam dari Bunut Ngengkang.

    Sanggah Basong (Muntiacus Muntjak)

Sanggah dalam Bahasa Sasak berarti rusa dan basong berarti anjing. Jadi sanggah basong berarti jenis rusa yang punya kemiripan dengan anjing dalam hal ini adalah jumlah puting susunya yang terdiri dari lima puting sementara rusa atau sanggah biasa memiliki empat puting.

sumber : www.detourlombok.com

Wetu Telu Praktik unik Masyarakat Suku Sasak


Wetu Telu


Pura Lingsar, Lombok Barat di sekitar tahun 1920
Wetu Telu (bahasa Indonesia:Waktu Tiga) adalah praktik unik sebagian masyarakat suku Sasakpulau Lombok dalam menjalankan agama Islam. Ditengarai bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam di masa lampau, yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak pada waktu itu secara bertahap, meninggalkan pulau Lombok sebelum mengajarkan ajaran Islam dengan lengkap[1]. Saat ini para penganut Wetu Telu sudah sangat berkurang, dan hanya terbatas pada generasi-generasi tua di daerah tertentu, sebagai akibat gencarnya para pendakwah Islam dalam usahanya meluruskan praktik tersebut. yang mendiami

Sejarah

Sebelum masuknya Islam, masyarakat yang mendiami pulau Lombok berturut-turut menganut kepercayaan animisme, dinamisme kemudian Hindu. Islam pertama kali masuk melalui para wali dari pulau Jawa yakni sunan Prapen pada sekitar abad XVI, setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Bahasa pengantar yang digunakan para penyebar tersebut adalah bahasa Jawa Kuno. Dalam menyampaikan ajaran Islam, para wali tersebut tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama masyarakat yang masih menganut kepercayaan lamanya. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dengan budaya masyarakat setempat, karena para penyebar tersebut memanfaatkan adat-istiadat setempat untuk mempermudah penyampaian Islam. Kitab-kitab ajaran agama pada masa itu ditulis ulang dalam bahasa Jawa Kuno. Bahkan syahadat bagi para penganut Wetu Telu dilengkapi dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno. Pada masa itu, yang diwajibkan untuk melakukan peribadatan adalah para pemangku adat atau kiai saja.

Dalam disampaikan dugaan bahwa praktik tersebut bertahan karena para wali yang menyebarkan Islam pertama kali tersebut, tidak sempat menyelesaikan ajarannya, sehingga masyarakat waktu itu terjebak pada masa peralihan. Para murid yang ditinggalkan tidak memiliki keberanian untuk mengubah praktik pada masa peralihan tersebut ke arah praktik Islam yang lengkap. Hal itulah salah satu penyebab masih dapat ditemukannya penganut Wetu Telu di masa modern.

Dalam masyarakat lombok yang awam menyebut kepercayaan ini dengan sebutan "Waktu Telu" sebagai akulturasi dari ajaran islam dan sisa kepercayaan lama yakni animisme,dinamisme,dan kerpercayaan Hindu.Selain itu karena penganut kepercayaan ini tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya (dikenal dengan sebutan "Waktu Lima" karena menjalankan kewajiban salat Lima Waktu).Yang wajib menjalankan ibadah-ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kiai atau pemangku adat (Sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang). Kegiatan apapun yang berhubungan dengan daur hidup (kematian,kelahiran,penyembelihan hewan,selamatan dsb) harus diketahui oleh kiai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari upacara-upacara tersebut sebagai ucapan terima kasih dari tuan rumah.

Lokasi

Lokasi yang terkenal dengan praktik Wetu Telu di Lombok adalah daerah Bayan, yang terletak di Kabupaten Lombok Barat. Pada lokasi ini masih dapat ditemukan masjid yang digunakan oleh para penganut Wetu Telu. Ada juga sebuah tempat yang digunakan oleh umat berbagai agama untuk berdoa.Namanya "Kemaliq" yang artinya tabu,suci dan sakral.terletak di desa Lingsar Kabupaten Lombok Barat yang setiap tahun mengadakan sebuah upacara adat yang bernama "Upacara Pujawali Dan Perang Topat" sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang diberikan Tuhan YME pada umat manusia

Sumber : id.wikipedia.org

Wisata Bahari Lombok Timur


Pantai Surga
Pantai Surga berada di wilayah Lombok Timur bagian selatan tepatnya Jerowaru, sekitar 50km dari kota Selong. Pantai ini terkenal memiliki pemandangan alam yang indah dan pantainya yang bersih dan berpasir putih, maka tidak heran pantai ini dinamakan pantai surga. Bagi yang menyukai olahraga Surfing pantai ini adalah salah satu pilihannya. Selain pantai surga masih ada sejumlah pantai di Wilayah selatan yang sangat indah, seperti pantai heaven on planet, pantai kaliantan, cemara, Teluk Ekas dengan daya tarik budidaya perikanan lautnya, disebut sebagai kawasan Gili indah.
  
Gili bagek/ Gili Kondo
Pulau kecil ini terletak di Perairan Kecamatan Sambelia (50km utara kota Selong) dan dapat dicapai melalui pantai transat di Kecamatan Sambelia (sekitar 25 menit) dan pelabuhan Kayangan Labuhan Lombok (sekitar 45 menit). Meski di pantai transat pasirnya berwarna hitam namun di gili lampu dan beberapa gili di sekitarnya berpasir putih. Di gili tidak berpenghuni ini, kita bisa menikmati alam bawah laut dengan snorkeling. Selain gili bagek, ada pula gili petagan dan gili-gili lainnya yang berada di sekitar kawasan tersebut. Untuk pengembangan pulau-pulau kecil ini sesuai dengan tata ruang wilayah Provinsi NTB tidak ada pembangunan fisik di Pulau itu, namun hanya menjadi tempat tujuan wisata.
  
Gili sulat dan Gili Lawang
Gilisulat adalah sebuah pulau kecil yang terletak 1,5 km di sebelah timur laut Pulau Lombok. Pulau yang memiliki panjang maksimum 5,2 km ini secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Sejauh 500 meter di sebelah barat laut ini terdapat Pulau Gililawang.Gili Sulat dan Gili Lawang merupakan pulau kecil (gili) yang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai tujuan wisata alam (eco tourism) karena memiliki potensi berupa hutan bakau dan taman bawah laut yang sangat indah.Keseluruhan kedua gili ini terdiri dari hutan bakau namun sebenarnya ada juga sebagian kecil yang merupakan pasir putih, dan pada musim tertentu kawanan lumba-lumba akan menampakkan diri di daerah ini.

Sumber : lomboktimurkab.go.id

Wisata Alam Lombok Timur



Otak Kokoq Joben
Obyek wisata air terjun ini berada di Desa Montong Betok Kecamatan Montong Gading. Salah satu yang menjadi daya tarik obyek wisata ini, air terjunnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Selain itu pemandangan di sekitar Otak kokoq Joben juga sangat indah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Disini juga disediakan sejumlah fasilitas seperti tempat peristirahatan dan kolam renang.
  
Pendakian Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak
Gunung Rinjani adalah salah satu dari Gunung berapi yang masih aktif dengan ketinggian 3726 meter dari permukaan laut. Dari 3 jalur pendakian yang ada, 2 diantaranya yakni pendakian jalur sembalun dan jalur selatan berada di Kabupaten Lombok Timur. Daya tarik Gunung rinjani selain dapat menikmati pemandangan alam yang indah, ada pula danau segara anak dan gunung baru jadi. Bahkan pada bulan Juni tahun 2008 lalu, Gunung Rinjani ditetapkan menjadi salah satu taman bumi dunia (Geo Park) oleh lembaga Badan Gunung Api Dunia, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
  
Air Terjun Mayung Putek
Berbeda dengan air terjun lainnya, Air terjun mayung putek yang berada di Sembalun adalah air terjun yang memiliki kandungan belerang. Karena air terjun yang melewati kokoq putek ini turun langsung dari Gunung Rinjani. Air terjun yang berwana putih karena kandungan belerangnya dapat digunakan untuk menyembuhkan bebagai macam penyakit kulit.
  
Air Terjun Aik Temer/ Jeruk Manis
Lokasi air terjun ini berada di desa Kembang Kuning Kecamatan Sikur berdekatan dengan desa Tete Batu. Air terjun ini berada di kaki gunung Rinjani pada ketinggian 600-1000 meter di atas pemukaan laut dengan suhu udara antar 15'-25' C. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 40 meter dengan didukung oleh pemandangan hutan yang indah serta satwa berupa monyet liar. Tempat ini juga memiliki dua buah sungai yang menarik bagi mereka yang suka berpetualang. Menurut cerita turun temurun, air terjun ini dipercaya dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit terutama untuk menyuburkan rambut. Untuk keperluan pengobatan penyakit ini biasanya dilakukan dengan ritual tradisional yang dipimpin oleh seorang Pemangku.
Karena berada di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Rinjani, di tempat ini tidak dibangun fasilitas pendukung. Disamping dapat menikmati suasana dan pemandangan hutan yang masih alami, perjalanan dari gerbang sejauh sekitar 1 km juga harus dilalui dengan berjalan kaki. Namun kita dapat berwisata sekaligus belajar karena disetiap pohon yang kita lalui dipasang nama pohon dan tanaman sekaligus nama latinnya.
  
Tete Batu
Desa wisata Tete Batu terletak pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut dengan pemandangan pedesaan yang indah dan udara yang sejuk, bersih dan segar sehingga anda akan merasa rileks dan nyaman, selain itu warga desa ini juga ramah dan bersahabat. Tete batu memiliki akomodasi yang bagus seperti hotel Soedjono dan Green Orry cottage yang dilengkapi dengan restoran. Tinggal di Tete Batu adalah sebuah pilihan yang tepat bila anda masih ingin melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi objek wisata lainnya di kaki Gunung Rinjani karena Tete Batu terletak di tengah jalur menuju beberapa objek wisata seperti air terjun Aiktemer, Otak Kokoq, Desa Pringgasela dan Suradadi. Beberapa tour travel memilih desa ini sebagai salah satu temapt peristirahan bagi tamu-tamu mereka.
  
Desa Sapit
Jika anda pergi ke Sembalun dengan mengambil rute Masbagik-Aikmel-Swela-Pesugulan, anda akan melewati desa ini. Sapit adalah sebuah desa tradisional yang berada di kecamatan Swela (kurang lebih 65 km dari kota Selong) dengan dua daya tarik utama berupa pertanian dan pemandangan pegunungan. Dari desa ini kita juga dapat melihat dengan jelas Samudera Indonesia dan Selat Alas, kita juga dapat melihat puncak gunung Rinjani. Masyarakat desa ini masih bercocok tanam dengan cara tradisional yang dapat memberikan suasana pedesaan yang klasik dan natural, dan sebelum sampai di desa ini anda juga dapat menikmati wisata di kolam mata air Lemor dengan hutan wisata yang indah. Di desa tersedia beberapa penginapan/pondok wisata/homestay.



sumber : lomboktimurkab.go.id

Keistimewaan Tradisi Bau Nyale


Bau Nyale adalah sebuah peristiwa dan tradisi yang sangat melegenda dan mempunyai nilai sakral tinggi bagi suku Sasak.
 
Tradisi ini diawali oleh kisah seorang Putri Raja Tonjang Baru yang sangat cantik yang dipanggil dengan Putri Mandalika. Karena kecantikan-nya itu para Putra Raja memperebutkan untuk meminangnya.

Jika salah satu Putra Raja ditolak pinangannya maka akan menimbulkan peperangan. Sang putri mengambil keputusan pada tanggal 20 bulan kesepuluh untuk menceburkan diri ke laut lepas. Dipercaya oleh masyarakat hingga kini bahwa Nyale adalah jelmaan dari Putri Mandalika.

Nyale adalah sejenis binatang laut yang berkembang biak dengan bertelur, perkelaminan antara jantan dan betina. Upacara ini diadakan setahun sekali.Bagi masyarakat Sasak, Nyale dipergunakan untuk bermacam-macam keperluan seperti: santapan (Emping Nyale), ditaburkan ke sawah untuk kesuburan padi, lauk pauk, obat kuat dan lainnya yang bersifat magis sesuai dengan keyakinan masing-masing.

sumber :lomboktimurkab.go.id